profesi guru

TENAGA PENDIDIK: GURU BUKAN LAGI PROFESI KELAS DUA

Berita Utama – Kompas
Selasa, 21 Februari 2006

Indira Permanasari dan P Bambang Wisudo

Suasana kantin di sayap timur Kampus Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ingar-bingar. Ratusan mahasiswa hilir mudik di tengah dentuman musik rock yang memenuhi pelataran terbuka, yang menjadi tempat favorit mahasiswa di waktu senggang.
Suasana itu tidak berbeda dengan koridor utama Atma Jaya. Berbagai aliran musik anak muda berdentum-dentum. Irama musik itu datang dari deretan ruangan yang dipergunakan sebagai sekretariat unit kegiatan mahasiswa. Baju, sepatu, dan berbagai macam aksesori tren terbaru dipertontonkan di lorong kampus yang tidak ubahnya sebuah catwalk.
Di tengah kampus yang sedang berubah itu, Silla (19) mahasiswa angkatan 2004 memilih menyepi di lantai tiga yang lebih kontemplatif. Ia asyik membaca sebuah buku karya Torey Hayden, psikolog yang bekerja untuk anak-anak berkebutuhan khusus, yang ia pinjam dari perpustakaan. Dandanannya sederhana: baju kaus gombrong, celana panjang, dan sebuah tas kain besar. Wajahnya bersih tanpa riasan.
Pricilla Anindita memang bagian dari kelompok minoritas di Atma Jaya. Jika sebagian besar mahasiswa di sana memimpikan pekerja profesional di industri bisnis, Silla begitu panggilan akrabnya kuliah di Atma Jaya untuk menjadi guru SD.
”Saya sangat ingin menjadi guru dan berhubungan dengan anak-anak. Sejak dulu saya sering mengajari adik saya. Rasanya senang sekali,” tutur Silla yang lebih sering mendapatkan nilai A untuk tiap mata kuliah yang diambilnya.
Sejak SMA Silla bercita-cita menjadi guru. Ia sempat iseng mengikuti jalur seleksi tanpa tes untuk Jurusan Akuntansi di Universitas Indonesia, semata-mata atas saran keluarganya. Ia justru bersyukur tidak masuk. Pintu masuk untuk menjadi guru SD terbuka setelah ia diterima di Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Atma Jaya, satu-satunya program PGSD setingkat S-1 di Indonesia yang merekrut calon mahasiswa dari lulusan SLTA. Untuk mencukupi biaya kuliahnya, Silla bekerja paruh waktu di sebuah klinik di Bogor.
Pengecualian
Menjadi guru juga merupakan cita-cita Asep Gunawan (19), mahasiswa Program Studi Kependidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Ibunya guru SD yang telah mengabdi selama lebih dari 20 tahun. Penghasilannya kecil. Cerita itu justru mendorong Opik, panggilan akrab Asep Gunawan, menjadi guru. Lulus SMA ia mendaftar ke Jurusan Bahasa Inggris, Jerman, dan Kimia, UPI. Ketiganya program kependidikan.
”Begitu mendengar saya masuk UPI, langsung pandangan teman-teman saya dulu gimana gitu, tetapi saya tidak minder. Saya justru ingin mengubah citra seorang guru,” tutur Opik.
Silla dan Opik boleh dibilang pengecualian dari kawan-kawan segenerasinya. Gaji guru yang rendah, tertindas oleh birokrasi dan sulit berkembang, serta merosotnya status sosial guru di tengah masyarakat membuat profesi guru menjadi pilihan terakhir. Ketika harga guru begitu rendahnya, lembaga-lembaga pendidikan guru kesulitan mencari masukan calon mahasiswa yang pintar. Sebagaimana profesi guru, mahasiswa program studi kependidikan juga dianggap warga kelas dua.
Citra guru yang buruk, seperti diakui Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Paulus Suparno, berpengaruh langsung terhadap kualitas calon mahasiswa program studi kependidikan.
Ketika IKIP Sanata Dharma berubah menjadi universitas, lulusan SMA terbaik justru memilih program-program studi nonkeguruan yang dibuka kemudian. Nilai calon mahasiswa Jurusan Farmasi Sanata Dharma, misalnya, rata-rata mencapai 8,5. Keadaan sebaliknya untuk program studi kependidikan. Sudah minatnya sedikit, hasil tes akademiknya rendah. ”Kalau mau jujur, mereka sebenarnya tak boleh jadi guru,” kata Paulus.
Mulai dilirik
Sejumlah program studi kependidikan yang favorit memang masih diminati. Persoalannya, ketika penghargaan guru kurang, mereka yang kuliah di program studi kependidikan favorit juga enggan menjadi guru. Program Studi Kependidikan Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma, umpamanya, sangat favorit tetapi hanya sedikit yang berminat menjadi guru. Bahkan di Universitas Negeri Jakarta pernah dalam satu angkatan hanya satu dari 30 orang yang akhirnya menjadi guru.
Ketika penghargaan guru mulai diperhatikan, minat dan gengsi menjadi guru pun mulai berubah. Di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta, pemerintah daerah memberikan insentif tambahan yang cukup signifikan kepada para guru pegawai negeri sipil (PNS). Dengan tunjangan dari pemerintah daerah sekitar Rp 2 juta per bulan, penghasilan seorang guru PNS minimal Rp 3 juta.
Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen juga memberikan sinyal bahwa kesejahteraan guru akan ditingkatkan. Guru yang memenuhi kualifikasi akademik dan mengantongi sertifikat sebagai pendidik dijanjikan mendapatkan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok. Belum lagi tambahan tunjangan fungsional sebesar Rp 500.000 per bulan.
Peningkatan kesejahteraan guru itu membuat Mustofa (23) yang tak pernah punya keinginan jadi guru harus berpikir ulang. Mahasiswa kimia UNJ itu mulai melirik profesi guru. Apalagi penghasilan guru PNS di Jakarta tidak gampang terkejar oleh karier bekerja di perusahaan swasta dengan penghasilan awal Rp 1,2 juta per bulan.
”Dulu enggak banget kalau jadi guru, sekarang fifty-fifty,” kata Mustofa, lulusan SMA Negeri 30 di Jakarta Timur itu.
Gaji guru negeri di Jakarta memang menggiurkan. Namun, semua itu belum ada artinya untuk menyelesaikan gunung es persoalan guru di Tanah Air. Nasib guru honorer swasta masih di luar agenda pemerintah. Tunjangan profesional yang dikaitkan dengan sertifikasi guru tetap menjadi mimpi bagi guru SD yang sebagian besar belum berkualifikasi akademik S-1. Apalagi persoalan guru tidak semata- mata masalah kesejahteraan….

Desember 13, 2007 at 4:34 am 1 komentar

artikel tentang guru

guru1.jpg

 

MELIHAT GURU KONTRAK DI DAERAH
[ Oleh : Aminullah | 4 April 2003 | 2573 pembaca]

MASALAH kekurangan tenaga pendidik di daerah adalah hal yang biasa dijumpai, terutama guru sekolah dasar (SD). Sudah menjadi pemandangan umum bila kita menjumpai seorang guru SD yang merangkap menjadi wali di dua atau tiga kelas. Tentu saja dengan konsekuensi logis bahwa guru tersebut harus mengajarkan semua mata pelajaran kepada murid di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, kecuali beberapa mata pelajaran yang butuh pemahaman khusus dan harus ada guru tersendiri yang menangani.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata masih dijumpai SD yang hanya memiliki dua orang guru; satu sebagai kepala sekolah dan satu lagi guru kelas. Kondisi seperti ini dapat dijumpai terutama di desa-desa yang mungkin luput dari perhatian aparat dinas pendidikan yang berdomisili di kota.

Hingga kemudian muncul alternatif penyelesaian masalah tersebut dengan cara regrouping; dua sampai tiga SD yang memiliki siswa sedikit dijadikan satu. Asumsinya adalah bahwa masalah kekurangan guru akan teratasi karena jumlah sekolah secara institusi berkurang, sementara akan ada sekian tenaga guru bisa direalokasikan ke sekolah lain yang membutuhkan.

Namun, pada kenyataannya hal ini tidak berjalan dengan mudah. Lebih-lebih pada sekolah-sekolah yang ada di pedesaan.

Sekolah-sekolah di kota relatif mudah di-regrouping karena masih dijumpai sekolah-sekolah yang berdiri di satu lokasi yang sama. Tetapi, bagi sekolah yang ada di desa akan lain halnya. Jarak sekolah yang satu dengan lainnya rata-rata berjauhan sehingga akan berpengaruh pada kesediaan siswa dan guru untuk direalokasikan guna tetap melaksanakan proses belajar-mengajar.

Alternatif lain yang sedang dicoba untuk mengatasi kekurangan guru adalah dengan melakukan rekrutmen guru kontrak. Menurut informasi, kontrak kerja akan berlaku selama tiga tahun untuk satu periode, bisa diperpanjang pada periode berikutnya bagi guru yang dinilai kapabel dan berkompeten. Rekrutmen ini juga diprioritaskan bagi guru SD. Indikasi ini terlihat dari jumlah guru yang dialokasikan. Di salah satu kabupaten di Jawa Timur saja, dari 882 guru kontrak yang akan diterima, 511 di antaranya untuk SD.

FENOMENA seputar rekrutmen guru kontrak-walaupun baru dimulai- menyisakan pertanyaan tentang mana atau siapa yang diprioritaskan. Minimal ada dua pihak yang mengklaim dirinya yang perlu diprioritaskan. Pihak pertama adalah para guru yang telah menjadi sukarelawan selama beberapa tahun di sekolah tertentu, dengan kompensasi kesejahteraan yang pas-pasan, bahkan sebagian di antaranya sampai pada usia menjelang pensiun. Pihak kedua adalah pendatang baru yang memiliki keterampilan dan disiplin ilmu “terbaru”.

Untuk beberapa masa tertentu, guru kontrak ini akan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dalam hal pemberian imbalan kesejahteraan atau honor, namun selanjutnya akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dengan demikian, kesejahteraan guru sedikit lebih baik karena adanya jaminan mendapat imbalan sedikit di atas upah minimum provinsi. Di samping itu juga punya harapan cerah untuk menjadi guru negeri dengan mengantongi Nomor Induk Pegawai (NIP).

Pertanyaan selanjutnya adalah soal penempatan. Akan ditempatkan atau ditugaskan di mana guru kontrak ini nantinya? Sebab, akan berdampak tidak baik bila sebagian besar guru kontrak tersebut tetap dialokasikan bertugas di kota, yang berarti masalah kekurangan guru-khususnya di pedesaan-belum tertangani dengan serius.

Sangat diperlukan keseriusan atau kesungguhan bagi daerah untuk menyelesaikan masalah, dan merencanakan pembangunan, terutama membangun sumber daya manusia. Keberadaan lembaga pendidikan beserta ketersediaan tenaga pengajarnya merupakan satu tahapan penting menuju kemandirian dan kesejahteraan (otonomi) daerah yang sebenarnya. Pada gilirannya kelak akan mampu membangun sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki dedikasi dan bermoral.

Aminullah Penggiat pendidikan lingkungan, tinggal di Jember, Jawa Timur

(lebih…)

Desember 11, 2007 at 2:25 am 3 komentar

artikel pendidikan


SEKILAS
TEKNOLOGI INFORMASI

 

Manusia adalah mahluk sosial, disamping Sandang, pangan, dan Papan sebagai kebutuhan utamanya, maka sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan untuk berkomunikasi diantara sesamanya sebagai kebutuhan utamanya untuk dapat saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Maka mulailah manusia mencari dan menciptakan sistem dan alat untuk saling berhubungan tersebut, mulai dari melukis bentuk (menggambar) di dinding gua, isyarat tangan, isyarat asap, isyarat bunyi, huruf, kata, kalimat, tulisan, surat, sampai dengan telepon dan internet.

Alat dan Sistem komunikasi yang diciptakan manusia tersebut kemudian dikenal dengan nama Teknologi Informasi atau yang lebih dikenal dengan istilah
” IT ” (dibaca ai-ti), singkatan dari Information Technology (eng).

Pada halaman-halaman berikutnya kita bersama-sama akan menyimak perjalanan IT dari masa ke masa, mengenali alat dan teknologi IT, serta mempelajari teknologi terbaru dari IT yaitu Internet

Perkembangan peradaban manusia diiringi dengan perkembangan cara penyampaian
informasi (yang selanjutnya dikenal dengan istilah Teknologi Informasi). Mulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding gua, peletakkan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti sampai diperkenalkannya dunia arus informasi yang kemudian dikenal dengan nama INTERNET.
Informasi yang disampaikan pun berkembang. Dari sekedar menggambarkan keadaan sampai taktik bertempur

(lebih…)

Desember 11, 2007 at 2:02 am Tinggalkan komentar


Tulisan Terakhir

April 2014
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Komentar Terakhir

iwan kurniawan on artikel tentang guru

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.